Kamis, 08 Desember 2011

Sepucuk Surat dari Pejuang Hamas (GAZA) Untuk Negeri INDONESIA

Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?

Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.

Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia,
Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.

Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.

Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!

Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.

Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.

Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!

Wahai saudaraku di Indonesia,
Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?

Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.

Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.

Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.

Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.

Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?

Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.

Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.

Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.
Abdullah Al Ghaza

http://adaapasekarang.blogspot.com/2011/04/sepucuk-surat-dari-pejuang-hamas-gaza.html

Rabu, 07 Desember 2011

Menyikapi Kehidupan Di Akhir Zaman

Hidup di babak keempat era Akhir Zaman dewasa ini kita jumpai realita penuh dengan fitnah. Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa babak ini merupakan babak kepemimpinan Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak sekaligus mengabaikan Kehendak Allah dan RasulNya). Bisa dikatakan ini merupakan the darkest ages of the Islamic history (era paling kelam dalam sejarah Ummat Islam). Hidup di babak ini memerlukan kesabaran yang berlipat ganda. Mengapa? Karena di masa ini kita terpaksa menyaksikkan begitu banyak kemungkaran dan kezaliman yang berlangsung di sekitar hidup kita. Sehingga dalam suatu kesempatan Nabi Muhammad saw memberikan sebuah peringatan yang dapat dibaca di dalam hadits berikut ini:

(ABUDAUD - 3780) : Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Amru bin Al Ash ia berkata, "Saat kami berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menyebutkan tentang fitnah. Beliau bersabda: "Jika kalian melihat manusia telah rusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka, sementara mereka begini -beliau menganyam antara jemarinya-," Abdullah berkata, "Aku lantas bangkit ke arah beliau seraya bertanya, "(Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu) apa yang harus aku lakukan pada saat itu?" beliau menjawab: "Tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu, kuasailah lisanmu, ambilah (lakukan) apa saja yang kamu ketahui dan tinggalkan apa saja yang kamu pungkiri (tidak ketahui), urusilah perkaramu sendiri dan jauhilah urusan orang banyak."

Kondisi dunia modern dewasa ini adalah persis sebagaimana di gambarkan oleh Rasulullah saw,  seperti benang kusut yang direpresentasikan dengan beliau menganyam antara jemarinya. Setiap hari ketika menyaksikan berita di televisi, kita lalu disajikan berbagai kasus dimana manusia telah merusak janji-janji mereka dan telah luntur amanah mereka. Sebut saja misalnya, seorang ibu kandung yang seyogyanya menjadi sumber kasih sayang justeru menjual bahkan membunuh anak sendiri. Seorang polisi, yang sepatutnya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat, diduga kuat oleh atasannya sendiri telah melakukan tindak korupsi milyaran rupiah. Dsb... dsb... dsb.

Sahabat Abdullah bin Amru bin Al-Ash yang meriwayatkan hadits ini langsung bertanya kepada Nabi saw apa yang sepatutnya dia lakukan bila keadaan demikian dijumpainya?

Jawaban Nabi saw setidaknya mengandung lima rambu:

Pertama, "tetaplah engkau berdiam di dalam rumahmu."
Saya khawatir bahwa Nabi saw menganjurkan agar di masa fitnah marak hendaknya apapun pekerjaan yang kita usahakan, maka pastikanlah bahwa ia tetap bersifat home-based jobs. Artinya pekerjaan yang menyebabkan seorang kepala keluarga tetap dapat memperhatikan keluarganya. Bukan pekerjaan yang menyebabkan terabaikannya tanggung-jawab sebagai suami dan ayah yang soleh. Janganlah dengan dalih sibuk kerja di luar rumah, kemudian menyebabkan anak dan isteri menjadi berjarak dengan sang ayah. Barangkali inilah rahasianya mengapa sebagian individu di negara-negara industri mulai mengembangkan konsep home-office, kantor sekaligus rumah/tempat tinggal.

Kedua, "kuasailah lisanmu".
Di masa penuh fitnah dimana kemungkaran dan kezaliman merejalela kita seringkali harus menahan diri dari mengeluarkan ungkapan, komentar atau ucapan yang dapat menyebabkan diri kita sendiri terjerumus ke dalam dosa. Kalau kita mau jujur terlalu banyak alasan bagi kita untuk setiap saat berkeluh-kesah bahkan melaknat kesana-kemari menyaksikan fitnah yang berkembang. Sungguh benarlah sabda Nabi saw berikut ini:

(IBNUMAJAH - 3963) : Telah menceritakan kepada kami dari Mu'adz bin Jabal dia berkata, "Aku bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di suatu perjalanan, hingga di suatu pagi aku berada di sisi beliau. Saat berjalan aku berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku amalan yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka?" Beliau menjawab: "Sungguh, kamu telah menanyakan suatu perkara yang sangat besar (bagus) padahal itu sebenarnya sangat mudah bagi orang yang Allah mudahkan; yaitu kamu menyembah Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatupun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan menunaikan ibadah haji." Kemudian beliau bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai dan sedekah dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam." Lalu beliau membaca: '(Lambung mereka jauh dari tempat tidurny...) ' sampai pada bagian ayat '(sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan) ' (Qs. As Sajadah: 16-18). Kemudian beliau melanjutkan: "Maukah aku beritahukan kepadamu pokok perkara, tiang-tiangnya dan puncak tertinggi segala urusan? Itu adalah jihad." Kemudian beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepadamu tentang orang yang memiliki semua itu?" aku menjawab, "Tentu." Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda: "Kamu harus menahan ini dari dirimu." Aku berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami akan dihukum karena hal yang kami bicarakan? " " Beliau bersabda: "Sungguh kebangetan kamu wahai Mu'adz, tidaklah muka-muka manusia disungkurkan ke dalam api neraka melainkan karena hasil perbuatan lidah-lidah mereka!"

Selasa, 06 Desember 2011

Bertaubat dari Modal Usaha yang Haram (RIBA)

Seseorang terlanjur berusaha dan berbisnis dengan modal yang haram sedangkan ia ingin segera bertaubat kepada Allah dan membersihkan dirinya dan harta bendanya dari hal-hal yang haram?

Hal pertama yang wajib baginya sebelum melakukan hal-hal lain adalah bersegera bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, yaitu dengan memohon ampunan kepada-Nya atas segala dosa yang telah diperbuatnya, menyesalinya dengan sebesar-besar penyesalan dan bertekad bulat untuk tidak mengulanginya kembali di kemudian hari, sebagaimana firman Allah:“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At-Tahrim:8)
Allah Ta’ala berfirman pula:
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Selanjutnya, agar taubatnya sempurna dan diterima Allah maka hendaknya ia membersihkan kekayaannya dari segala modal dan harta yang diperolehnya dengan cara yang haram. Dan dalam hal ini ada dua permasalahan: 
 
Keadaan pertama
Ketika memperoleh harta benda atau modal haram tersebut ia dalam keadaan tidak mengetahui keharamannya, dikarenakan ia adalah seorang mualaf (baru masuk Islam), atau tinggal di wilayah yang belum terdengar dakwah Islam atau penjelasan tentang larangan-larangan tersebut.

Maka dalam keadaan demikian, ia wajib bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha sebagaimana telah disebutkan di atas, sedangkan harta atau modal haram yang telah ada di tangannya tersebut menjadi halal baginya, dan ia tidak berdosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.(QS. Al-Baqarah: 275-276)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala tidak memerintahkan untuk mengembalikan harta benda yang telah diambil melalui transaksi riba setelah bertaubat. Akan tetapi Dia memerintahkan agar mengembalikan harta hasil riba yang belum diambilnya.” (Al-Fatawa As-Sa’diyah hlm. 303)

Dan Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini: “Dari ayat yang mulia ini dapat diambil pelajaran bahwa Allah tidak menyiksa seorang manusia disebabkan melakukan suatu perkara kecuali setelah Dia mengharamkannya. Dia telah menerangkan makna ini dalam banyak ayat Al-Qur’an. Allah berfirman tentang orang-orang (para sahabat, pen) yang pernah minum khamr dan memakan harta hasil perjudian sebelum turunnya ayat yang mengharamkannya:
Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman.” (QS. Al-Ma-idah: 93)

Senin, 05 Desember 2011

Menjaga Kehormatan Diri

Ibnu Mas'ud bercerita: Suatu ketika seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW. 

"Rasulullah," Katanya. "Aku pernah bercumbu dengan seorang wanita diluar kota, tetapi tidak sampai bersenggama. Putuskanlah hukuman yang pantas kuterima."

Saat itu Umar ibn Khatthab sedang bersama Rasulullah. Ia geregetan dengan lelaki yang tak sopan itu. 
"Allah sudah menutupi aibmu! Kenapa kau malah membukanya?! kata Umar, geram. 
Sementara Rasulullah tidak menanggapi pertanyaan lelaki tersebut. Sampai kemudian lelaki itu pergi.

Tak lama kemudian, Allah menurunkan wahyu, Dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik dapat menghapuskan  (dosa) perbuatan-perbuatan buruk (Hud: 114).

Segera Rasulullah meminta seseorang untuk menyusul lelaki yang bertanya tadi, dan membawanya kembali. Rasulullah kemudian membacakan ayat tersebut kepadanya.
Kisah diatas hendak mengatakan bahwa seseorang tak diperkenankan menceritakan kepada siapapun dosa dan aib dirinya. Sebab, saat seseorang berbuat dosa dan tidak seorangpun tahu, sesungguhnya Allah sedang menyembunyikan aib tersebut dari pandangan manusia. Maka, dosa itu tak patut diceritakan kepada siapapun kecuali kepada Allah, yaitu dengan menyesali dan berjanji tidak akan mengulanginya. Lalu mengubahnya dengan banyak berbuat kebaikan sampai dosa-dosa yang telah dilakukan akan tampak semakin sedikit. Tertimbun kebaikan-kebaikan, sampai akhirnya tak tampak sama sekali.

Rasulullah pernah berkata kepada para sahabanya, "Setiap dosa seseorang akan diampuni, kecuali mujahirin." 

Para sahabat bertanya, siapakah yang dimaksud dengan mujahirin itu. 
"Ialah orang yang berbuat dosa dimalam hari, tanpa seorangpun yang tahu, "Jawab Rasulullah. "Namun pada siang harinya, orang itu malah menceritakan kepada orang-orang perbuatannya yang ia lakukan semalam."



Pelajaran Hidup Dari Sang Anak

Suatu senja seorang ibu yang sedang membantu anak-anaknya mengulang pelajaran mereka. Sang ibu memberikan putra terkecilnya yang berusia 4 tahun sebuah buku gambar, agar tidak mengganggunya dalam memberikan keterangan terhadap pelajaran saudara-saudarnya yang lain. 

Tiba-tiba sang ibu teringat bahwa dia belum menyuapi mertunya yang sudah lanjut usia dan hanya mampu berbaring di ranjang di rumah yang terpisah. Rumah itu tak jauh, berdampingan letaknya. Disana, sang mertua tinggal sendiri. Kecuali jika saatnya makan, mandi dan keperluan lainnya si ibu atau suaminya akan kesana membantunya.

Ibu itu segera meninggalkan anak-anaknya, untuk menyiapkan makanan. Saat kembali, anak terkecilnya sedang menggambar. Sebuah gambar lingkaran yang didalamnya terdapat simbol-simbol. Disamping lingkaran si anak menggambar bentuk kotak. 

"Gambar apa itu nak?" tanya si ibu.
"Aku sedang menggambar rumah bu". jawab si anak. "Yang lingkaran ini rumahku kelak. ini dapur..... ini kamar mandi.... ini kamar tidur.... ini ruang tamu..."
"Terus kotak yang diluar lingkaran ini apa?" tanya si ibu.
"Itu rumah ibu, jika nanti ibu sudah tua seperti kakek," jawab si anak. "Nanti ibu tidur disana sendirian seperti kakek." 

Si ibu terperanjat dengan penjelasan si anak. Apakah anak-anakku akan membiarkan aku sendirian pada masa tuaku nanti. Tak bisa berkumpul bersama mereka? Tak bisa melihat mereka bermain bersama anak-anaknya? Tak bisa mendengar celotehan cucu-cucuku? Apakah seperti itu yang dirasakan mertuaku saat ini? Kata si ibu dalam benaknya terharu. 

Ia kemudian segera memanggil pembantunya. Mengajaknya membersihkan satu kamar dan memindahkan mertuanya ke kamar tersebut. Jika aku diberi umur panjang, aku ingin hidup diruang yang paling indah untuk dihuni, ruang dimana akau selalu dekat dengan anak-anakku, cucu-cucuku. Dan, jika pergi untuk selamanya, aku ingin diantarkan oleh mereka. Hatinya berbisik. Ia ciumi tangan mertuanya sambil berlinang air mata.

Sementara anak-anaknya masih melanjutkan belajar. Dari gambar yang telah dibikin anak kecilnya.... Ia menambah satu simbol di dalam lingkaran yang ia gambar dan menghapus gambar kotak di samping lingkaran itu.